QIRA’AT QUR’AN
MAKALAH QIRA’AT QUR’AN
Disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah
Ulmul Qur’an
Dosen Pengampu :
Mohammad Zaenal Arifin,
M.HI,
Disusun oleh :
Binti Rahayu (933400413)
Putri Ratnasari (933401913)
Program Studi Psikologi
Islam
Jurusan Ushuluddin
Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri
(STAIN) Kediri
2013
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
........................................................................................................1
1.1
Latar Belakang ..............................................................................................................1
1.2
Rumusan Masalah
.........................................................................................................1
1.3
Tujuan Penulisan ...........................................................................................................1
BAB II.
PEMBAHASAN..........................................................................................................2
2.1 Pengertian
Qira’ah dan Sejarahnya
.....................................................................................2
2.2 Syarat-Syarat
Diterimanya Qira’ah
.....................................................................................2
2.3 Macam-Macam
Qira’atil .....................................................................................................3
2.4 Faktor
Tumbuhnya Qir’at Al-Qur’an...................................................................................6
2.5 Faidah
Qira’ah Sahih............................................................................................................7
BAB
III. KESIMPULAN .........................................................................................................8
BAB
IV. DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................9
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak orang mengajar kebahagiaan di balik kemegahan materi. Padahal, itu semua hanyalah kesemuan belaka. Kalau ingin bahagia jujurlah. Jujur kepada Allah sebagai hamba-Nya, jangan basa-basi dan jangan setengah-setengah. Jujur sebagai suami maka selalu menjauhi dosa dan memberikan nafkah secara halal dan maksimal. Jujur sebagai istri maka selalu menjaga kehormatan diri dan harta suami dan benar-benar menjadi tempat berteduh bagi suami. Jujur sebagai pemimpin maka selalu menjunjung tinggi asa musyawarah dan bekerja keras untuk menegakkan keadilan dan memastikan kesejahtraan rakyatnya.
Bila kejujuran seperti tersebut di atas terwujud, banyak hikmah yang akan dipetik. Pertama, jujur akan mengantarkan ke surga. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga … dan sungguh kebohongan akan mengatarkan kepada dosa, dan dosa akan mengantarkan kepada neraka .…” (HR Bukhari-Muslim).
.
1..2 Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian qira’at?
2. Bagaimana
awal terjadinya qira’at?
3. Siapa
saja para pakar dalam ahli qira’at?
4. Apa
saja hikmah yang dapat dipetik dengan adanya qira’at?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui pengertian qira’at;
2. Untuk
mengetahui sejarah terjadinya qira’at;
3. Untuk
mengetahui para pakar yang ahli dalam bidang qira’at;
4. Untuk
mengetahui manfaat dari qira’at.
BAB
II. PEMBAHASAN
Ilmu
Qira’ah
2.1 Pengertian Qira’ah dan Sejarahnya
a. Pengertian
Qira’ah
Qira’ah
menurut bahasa berupa isim mashdar dari lafal qara’a(fi’il madhi), yang berarti membaca. Maka qira’ah berarti
membaca atau cara membaca.
Menurut istilah,
definisi qira’ah yaitu:
“Qira’ah
ialah salah satu cara membaca Al-Qur’an yang selaras dengan kaidah bahasa Arab,
dan sanadnya mutawatir serta cocok dengan salah satu dari beberapa mushhaf
Utsman.”
Imam
Az-Zarqani dalam buku Manaahilul Irfan
mendefinisiskan qira’ah berikut:
“Qira’ah ialah suatu cara membaca Al-Qur’an
yang dipilih salah satu dari seorang imam ahli qira’ah, yang berbeda dengan
cara orang lain dalam mengucapkan Al-Quranil Karim, sekalipun riwayat (sanad)
dan jalannya sama.”
Imam
Ibnul Jauzy dalam kitab Minjihud Muqri’inmendefinisikan
qira’ah, sebagai berikut:
“Qira’ah ialah ilmu mengenai
cara mengucapkan kalimat-kalimat Alquran
dan perbedaan-perbedaannya.”
Jadi,
qira’ah itu ialah cara membaca ayat-ayat Alquran yang berupa wahyu Allah SWT,
dipilih oleh salah seorang imam ahli qira’ah, berbeda dengan cara ulama lain,
berdasarkan riwayat-riwayat mutawatir sanadnya dan selaras dengan kaidah-kaidah
bahasa Arab serta cocok dengan bacaan terhadap tulisan Alquran yang terdapat
dalam salah satu mushhaf Utsman.
2.2 Syarat-Syarat
Diterimanya Qira’ah
Dari beberapa definisi qira’ah, dapat diketahui
bahwa syarat-syarat agar diterimanya qiraatil Qur’an itu ada tiga hal, sebagai
berikut:
a) Qira’ah
tersebut harus sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.
b) Sanad
dari riwayat yang menyeritakan qira’ah-qira’ah tersebut harus sahih.
c) Bacaan
qira’ah tersebut harus cocok diterapkan kepada salah satu mushhaf Ustman.
Jadi, semua qira’ah yang telah memenuhi
3 persyaratan tersebut, termasuk qira’ah sahih yang tidak boleh ditolak dan
dapat diingkari. Sebab, qira’ah yang demikian itu bisa termasuk salah satu dari
sab’atu ahrufin (tujuh malam bacaan
diturunkannya Alquran).
Menurut Al-Kawasyy, semua qira’ah yang
shahih sanadnya, selaras dengan kaidah bahasa Arab, dan cocok dengan salah satu
mushhaf Utsman itu adalah termasuk qira’ah sab’ah yang dinashkan dalam hadist
Nabi Muhammad SAW.
Pendapatnya itu dibantah ulama lain, di
antaranya pengarang kitab Asy-Syafi, bahwa memegangi karya qira’ah sab’ah itu
tidak ada dasar hukumnya, baik dari hadist atau dari riwayat ulama
mutaakhkhirin, terutama mereka yang bersepakat tidak boleh ada qira’ah lebih
dari tujuh orang.
Ibnu Jauzi dalam kitab Munjidul Muqri’in mengganti
syarat-syarat kedua (harus sahih sanadnya) dengan harus mutawatir. Sebab,
riwayat Alquran itu tidak bisa diterima kecuali dengan sanad mutawatir.
2.3 Macam-Macam
Qira’atil
a. Ditinjau
dari para qurra’ dari segi kuantitasnya
Dari uraian diatas
dapat diketahui, bahwa macam-macam qira’ah jika ditinjau dari segi banyaknya
para qurra’ yang mengerjakannya, ada tiga macam, yaitu:
a) Qira’ah
sab’ah, yang qira’ahnya disandarkan kepada tujuh tokoh ahli qira’ah yang
termashyur. Qira’ah tersebut mulai terkenal sejak abad II H., pada masa
pemerintahan Al-Mukmin. Tujuh orang pakar qira’ah tersebut ialah:
-
Nafi’ bin Abd Rahman (wafat 169 H.) di
Madinah.
-
Ashim bin Abi Najud Al-Asady (wafat 127
H.) di Kufah.
-
Hamzah bin Habib at-Taymy (wafat 158 H.)
di Kufah.
-
Ibnu Amir Al-Yashhuby (wafat 118 H.) di
Syam.
-
Abdullah Ibnu Katsir (wafat 130 H.) di
Makkah.
-
Abu Amer Ibnu Ala (wafat 154 H.) di
Basrah.
-
Abu Ali Al-Kisai (wafat 189 H.) di
Kufah.
Imam
al makki mengatakan, ada dua alasan menagapa dinamakan qira’ah sab’ah, yaitu pertama: khalifah utsman ketika mengirim copy
mushaf ke daerah-daerah itu ada
tujuh buah yang masing-masing disertai dengan ahli qira’ah yang mengajarkanya. Kedua,
karena tujuh qira’ah itu adalah yang sama
dengan tujuh cara (dialek) bacaan diturunkanya al qur’an.
b) Menurut
sebagian ulama, pembatasan terhadaptujuh ahli qira’ah itu kurang tepat, karena
ternyata masih banyak ulama lain yang memahami qiro’qtil qur’an. Jadi, qira’ah
asyrah itu ialah sepuluh orang ahli qira’ah, yaitu tujuh orang yang tersebut dalam qira’ah sab’ah ditambah dengan tiga
orang lagi, yaitu:
-
Abu Ja’far Yazid Ibnul Qa’qa al-Qari’ (
Wafat 130 H ) di Madinah
- Abu
Muhammad Ya’qub bin Isqaq al-Hadhary (wafat 205 H) di Bashroh.
-
Abu muhammad Khalaf bin Hisyam al-A’msyy
(wafat 229 H)
c) Qira’ah
arba’a ‘asyrata, yang qira’ahnya disandarkan pada 14 orang ahli qira’ah yang
mengajarkannya, 14 orang ahli qira’ah tersebut ialah10 orang ahli qira’ah
‘asyrah ditambah empat orang ahli qira’ah yang lain, empat orang itu ialah
sebagai berikut :
-
Hasan al- Bashry (wafat 110 H) dari
bashrah
-
Ibnu Muhaish (wafat 123H )
-
Yahya Ibnul Mubarak al –Yazidy (wafat
202 H) dari Baghdad
-
Abul Faraj Ibnul Ahmad asy-Syambudzy
(wafat 388 H) dari Baghdad.
d) Ditinjau
dari Perawi / dari Segi Kualitasnya
Imam
as-Suyuthi dalam buku munjidul muqri’in nenjelaskan, bahwa macam-macam
qira’ah jika ditinjau dari segi perawi-perawinya ada enam macam, sebagai
berikut :
a) Qira’ah
mutawatirah, yaitu qira’ah yang diriwayatkan oleh orang banyak dari orang
banyak, mereka tidak mungkin bersepakat dusta.
b) Qira’ah
masyhurah, yaitu qira’ah yang sahih sanadnya, seperti yang diriwayatkan oleh
orang-orang adil, dhabit dan seterusnya, dan selaras dengan kaidah bahasa arab,
serta bacaanya cocok dengan salah satu mushhaf utsman baik dari qira’ah sab’ah
ataupun qira’ah asyrah.
c) Qira’ah
ahad, yaitu qir’ah yang sanadnya shohih, tetapi tulisanaya tidak cocok dengan
mushhaf utsman dan juga selaras dengan kaidah bahasaarab.
d) Qira’ah
syadzdzah, yaitu qira’ah yang sanadnya tidak shahih.
e) Qira’ah maudu’ah, yaitu bacaan yang dibuat yang tidak
ada dasarnya sama sekali.
f) Qira’ah
mudraj, yaitu qira’ah yang bacaanya ditambah sebagi penjelas.
Menurut
Imam Nawawi empat qira’ah terakhir tidak boleh diamalkan bacaanya, menurut imam
nawawi: Qira’ah yang syadz tidak boleh dibaca di dalam maupun di luar sholat, karena ia bukan al-qur’an
karena sanadnya tidak mutawatir. Ibn Abdul Barr menukilkan ijma kaum muslimin
bahwa al-Qur’an tidak boleh dibaca dengan qira’at yang syadz dan juga tidak sah
sholat di belakang orang yang membaca dengan qira’at tersebut.
2.4 Faktor
Tumbuhnya Qir’at Al-Qur’an
1. Meluasnya
Wilayah Islam
Semakin
luasnya daerah kekuasaan islam, serta semakin banyak pula pemeluk agama islam
dari luar kalangan bangsa arab, itulah qira’at menjadi displin ilmu
pengetshusn.
2. Perkembangan
Ilmu Qira’at Al- Qur’an
Menurut
catatan sejarah, timbulnya penyebaran qira’at dimulai pada masa tabi’in yaitu
pada awal abad 2 H tatkala para qari’ tersebar di berbagai pelosok, mereka
menyampaikan qira’at dari gurunya , qira’at – qira’at tersebut diajarkan secara
turun temurun darike murid, hingga sampai pada imam qira’at baik yang tujuh,
sepuluh atau yang empat belas
3. Ragam
Perubahan Qira’at Al-Qur’an
a. Beda
dalam i’rab atau harokat kalimat tanpa perubahan makna dan bentuk kalimat
b. Beda
i’rab dan harokat kalimat sehingga merubah makna
c. Perubahan
huruf tanpa perubahan i’rab dan bentuk tulisanya dan maknanya berubah
d. Perubahan
pada kalimat dengan perubahan pada bentuk tulisanya, tetapimaknanya tidak
berubah
e. Perbedaan
pada kalimat yang menyebabkan perubahan bentuk maknanya
2.5 Faidah
Qira’ah Sahih
a) Menunjukan
bahwa al qur’an selalu terpelihara dari usaha-usaha tahrif, perubahan –
pengantian
b) Memberi
keringinan umat agar mereka mudah membaca sesuai dengan cara-cara yang mudah
dibacanya.
c) Menunjukan
kemukjizatan al qur’an,walupun singkat tapi padat, sehingga masing-masing
qira’at dapat menunjukan ketentuan hukum syari’at yang berlainan.
d) Menunjukan
adanya kemungkinan bacaan yang berlainan dalam suatu lafal / kata, sehingga
dapat dibaca dengan cara yang berbeda-beda.
2.6
BAB
III. KESIMPULAN
Pada
dasarnya qira’at adalah ilmu yang mempelajari bacaan al-Qur’an para imam di
tinjau dari perbedaan pengucapan dan sifanya yang sanadnya bersambung sampai
kepada Rasullulah SAW dan juga qira’at sebagai pedoman hidup. Kemudian banyak
ulama ahli qira’at dari berbagai kalangan. Ilmu qira’at dibagi menjadi 2 yaitu
qira’at dari segi kuantitas dan kualitas.
Tumbuhnya
ilmu qira’at didasari beberapa faktor, salah satunya meluas dalam wilayah
islam. Dengan adanya ilmu qira’at ini banyak manfaat yang dapat dipetik,
sehingga meringankan umat islam dan memudahkan untuk membaca al-Qur’an dengan
kaidh-kaidah yang benar.
BAB IV. DAFTAR PUSTAKA
Drs.
Mudzakir AS. 2012. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor: PT. Pustaka Litera AntarNusa.
Dr.
Hj. Hanun Asrohah, M.Ag, dkk. 2012. Bahan Ajar Tafsir. Mojokerto: CV. Sinar
Mulia Mojosari.
Komentar
Posting Komentar